ABDULLAH BIN SABA, TOKOH FIKTIF ?

Oleh : Abu Abdillah Muhammad Elvi Syam

Dakwa’an yang mengatakan Abdullah bin Saba itu adalah tokoh fiktif, selalu dielu-elukan oleh orang syi`ah modern dan orang orentalis, agar mereka bisa diterima ditengah-tengah masyarakat. Dakwa’an seperti ini bagaikan orang yang mengingkari cahaya matahari ditengah siang bolong lagi cerah.

Marilah kita lihat apa pengakuan orang syiah terdahulu terhadap keberada”an Abdullah bin Saba, sebagai bukti yang konkrit atas keberada’annya :

1) An Nasyi Al Akbar (293 H)

Mencantumkan tantang Ibnu Saba, dan golongan As Sabaiyah, yang teksnya: Dan suatu golongan yang mereka mendakwahkan bahwa Ali `alaihi salam masih hidup dan tidak pernah mati, dan ia tidak akan mati sampai ia menghalau (mengumpulkan) orang arab dengan tongkatnya, orang ini adalah As Sabaiyah, pengikut Abdullah bin Saba. Dan adalah Abdullah bin Saba seorang laki-laki dari penduduk San`a, seorang yahudi, telah masuk Islam lewat tangan Ali dan bermukim di Al Madain….Ref : Masailul Imaamah Wa Muqtathofaat minil kitabil Ausath fil Maqalat / ditahqiq oleh Yusuf Faan As, (Bairut 1971) hal : 22, 23.

2) Al Qummi (301 H),

Mengatakan : “Sesungguhnya Abdullah bin Saba adalah orang yang pertama sekali menampakkan celaan atas Abu Bakr, Umar, dan Utsman, serta para sahabat, dan berlepas diri dari mereka. Dan ia mendakwakan sesungguhnya Ali-lah yang memerintahkannya akan hal itu. Dan sesungguhnya Taqiyah tidak boleh. Lalu Ali diberitahukan, lantas Alipun menanyakannya akan hal itu, maka ia mengakuinya. Dan Ali memerintah untuk membunuhnya, lalu orang-orang berteriak dari setiap penjuru : Wahai Amirul Mukminin apakah anda akan membunuh seorang yang mengajak kepada mencintai kalian Ahli Bait, dan mengajak kepada setia kepadamu dan berlepas diri dari musuh-musuhmu, maka biarkan dia pergi ke Al Madain”. (Ref : Al Maqaalat wal Firaq, hal : 20. Diedit dan dikomenteri serta kata pengantar oleh Dr. Muhammad Jawad Masykur, diterbitkan oleh Muasasah Mathbu`ati `athani, Teheran 1963).

3) An Naubakhti (310H)

Menyetujui Al Qummi dalam memperkuat barita-berita tentang Abdullah bin Saba, lalu ia menyebutkan satu contoh, yaitu bahwasanya tatkala sampai kepada Abdullah bin Saba berita kematian Ali di Madain, maka ia berkata kepada orang yang membawa berita itu : Kamu telah berdusta kalau seandainya kamu datang kepada kami dengan otaknya sebanyak tujuh puluh kantong, dan kamu mendatangkan tujuh puluh saksi atas kematiannya, maka sungguh kami telah mengetahui sesungguhnya dia belum mati, dan tidak terbunuh, dan tidak akan mati sampai ia memiliki bumi.Ref : Firaqus Syi`ah : hal : 23. oleh Abu Muhammad Al Hasan bin Musa An Naubakhti, ditashhih oleh H. Raiter, Istambul, percetakan Ad Daulah, 1931.

4) AL Kisysyi

Mencantumkan (dari tokoh-tokoh abad ke empat) beberapa riwayat yang menegaskan hakikat Ibnu Saba, dan menerangkan kabar beritanya, dan ini sebagiannya: Telah menceritakan kepada saya Muhammad bin Quluwiyah Al Qummi, ia berkata : telah menceritakan kepada saya Sa`ad bin Abdillah bin Abi Khalaf Al Qummi, ia berkata telah menceritakan kepada saya Muhammad bin Utsman Al Abdi dari Yunus dengannya, Abdurrahman bin Abdillah bin Sinan telah berkata : telah menceritakan kepada saya Abu Ja`far Alaihis Salam : sesungguhnya Abdullah bin Saba, adalah orang yang mendakwakah kenabian, dan mendakwakan bahwa sesungguhnya Amirul Mukminin alaihi salam, sebagai Allah, Maha tinggi dari hal itu dengan ketinggian yang besar. Lalu berita itu sampai ke Amiril mukminin alaihis salam, beliau menanyakannya, maka iapun mengakui hal itu, dan berkata : Ya, engkau adalah Dia (Allah), dan sungguh telah dibisikkan ke dalam hatiku, bahwasanya engkau adalah Allah, dan saya adalah nabi. Lalu Amirul Mukminin berkata kepadanya : Celaka kamu, sungguh syaitan telah menguasaimu, kembalilah kamu (kepada kebanaran) dari ini, celaka ibumu, dan bertaubatlah. Maka iapun enggan (untuk bertaubat), lalu beliau menahannya, dan memintanya agar bertaubat selama tiga hari, namun belum juga bertaubat, lantas beliau membakarnya dengan api, dan berkata : syaitan telah menguasainya, selalu mendatanginya dan membisikkan ke dalam hatinya hal itu.Ref : Al Kisysyi : Rajalul Kasysyi hal : 98, 99, Ma`rifatu Akhbaarir Rijaal (al mathba`ah al musthafawiyah 1317) hal : 70.

5) Abu Hatim Ar Razi (322H) (bukan Abu Hatim Sunni karena ia meninggal th 277 H)

Menyebutkan bahwasanya Abdullah bin Saba dan orang-orang yang mengikuti perkata’annya dari kalangan As Sabaiyah, adalah mereka mendakwakan sesungguhnya Ali adalah Tuhan dan beliau menghidupkan orang mati, dan mendakwakah menghilangnya Ali setelah meninggal dunia dan berhenti sebatas itu… Ref : Az Zinah Fil Kalimaatil Islamiyah Al `Arabiyah, hal : 305. ditahqiq oleh DR. Abdullah bin Salum As Samiraai (terbitan Daarul Huriyah litaba`ah, di baghdad 1392 H / 1972).

6) Berkata Abu Ja`far Muhammad bin Al Hasan at Thuusi (460 H) tentang Ibnu Saba.

“Bahwa sesungguhnya ia telah kembali kepada kekafiran dan menampakkan pujian yang melampaui batas, kemudian ia menukilkan di kitabnya Tahdziibul Ahkaam sikap Ibnu Saba dimana ia menantang Ali dalam mengangkat kedua tangan ke langit”. Ref : At Thuusi Tahdziibul Ahkaam (diterbitkan oleh Darul Kutub Al Islamiyah / Teheran, cetakan ke dua) dita`liq oleh Hasan AL Musawi, 2/322.

7) Al Hasan bin Ali Al Hulliy (726 H)

Menyebutkan bahwa Abdullah bin Saba dari golongan-golongan orang yang lemah (tercela).Ref : Ar Rijaal (cetakan AL Haidariyah / An Najfah 1392 H) : 2/71.

8) Ibnu Murtadha (Ahmad bin Yahya meninggal tahun 840 H)

Dia adalah orang mu`tazilah dan menisbatkan dirinya ke Ahli Bait, dan termasuk imam (tokoh) syi`ah Zaidiyah, maka dia tidak hanya memperkuat keberadaan Ibnu saba, bahkan menegaskan bahwa sumber ajaran syiah dinisbatkan kepada Abdullah bin Saba, karena ia adalah orang yang pertama kali membuat perkataan adanya nas (ketetapan keimaman), dan perkataan keimaman dua belas imam.Ref : Tabaqatul Mu`tizilah (diterbitkan oleh Faranz Syatain / cetakan Al Katolikiyah / Bairut hal : 5 dan 6) dan lihat juga Dirasaat fil firaq wa aqaidil Islamiyah (diterbitkan oleh Penerbit Irsayd Baghdad) hal : 5.

Ini adalah sebagian kecil dari nash-nash yang dikandung oleh buku-buku syi`ah dan riwayat-riwayat mereka tentang Abdullah bin Saba.

Riwayat-riwayat di atas tanpa komentar karena nas itu sendiri sudah cukup untuk memberikan apa yang kita maksudkan.

Nas-nas itu boleh dikatakan dokumen-dokumen tertulis yang membantah orang-orang dari kalangan syi`ah belakangan ini yang berusaha untuk mengingkari keberadaan Abdullah bin Saba dan meragui kabar beritanya, dengan dalih sedikitnya berita atau lemahnya sumber-sumber yang menceritakan.

• SAIF BIN UMAR AT-TAMIMI

Menurut orang Syi`ah modern, Abdulah Bin Saba` hanyalah tokoh fiktif cipta’an Saif bin Umar Tamimi yang disebut pertama kali dalam bukunya berjudul al-Futuh al Kabir wa ar Riddah dani al-jamal wamasiri Ali wa Aisyah (170 H).

Mereka juga mengatakan bahwa keberada’an Abdullah bin Saba` adalah fiktif, dikarenakan hanya bersumber dari satu orang yaitu Saif At-Tamimi, yang dinilai cacat (oleh ahli jarh wa ta`dil).

Tertolaknya riwayat tentang Abdullah bin Saba` bukan hanya karena dalam jalur periwayatannya terdapat Saif At-Tamimi, melainkan bahwa Saif At-Tamimi merupakan sumber tunggal tentang cerita keberada’an Abdullah bin Saba` yang dengan predikat semacam itu maka sudah semestinya setiap kisah dari Saif At-Tamimi tidak bisa dipercaya, baik dalam wacana syari`at maupun tarikh.

Perkata’an tentang Saif bin Umar At Tamimi tersebut seakan mereka sedang berusaha untuk menegakkan benang basah, dengan dalih Saif bin Umar At Tamimi haditsnya tidak bisa diterima.

Maka kita katakan :

Kalau seandainya yang anda cantumkan dari perkata’an ulama jarh wa ta`dil tentang Saif bin Umar at Tamimi, bahwa lemah dan haditsnya tidak bisa diterima maka pembicara’an anda terfokus pada Saif bin Umar At Tamimi yang berkapasitas sebagai muhadits (ahli hadits dan yang meriwayatkan hadits).

Tapi apa gerangan perkata’an ulama tentang dia sebagai orang yang berkapasitas Ahli sejarah, marilah kita kembali ke buku-buku rijal (jarh wa ta`dil) :

Berkata Adz Dzahabi : “Adalah ia sebagai ahli sejarah yang mengetahui”. (Mizan `Itidal : 2/255).

Berkata Ibnu Hajar : “Lemah dalam Hadits, pakar (rujukan) dalam sejarah”. (Taqriibut Tahdziib no 2724).

Dangan ini habislah lemah dan ditinggalkan yang dinisbatkan ke diri Saif sebab perkata’an itu ditujukan dalam segi Hadits bukan dalam segi sejarah. Inilah titik pembahasan kita.

Perlu diketahui, kita harus membedakan antara meriwayatkan hadits dengan yang meriwayatkan sejarah (kisah), maka atas yang pertama (riwayat hadits) hukum-hukum dibangun dan ditegakkan, dilaksanakannya hudud, maka ia berhubungan langsung dengan pokok syariat agama yaitu sunnah nabi, dan di sinilah ulama selalu sangat hati-hati menentukan syarat-syarat orang yang akan diambil riwayatnya.

Berbeda halnya dengan riwayat sejarah (kisah), walaupun tak kalah penting -apalagi dalam mengisahkan sejarah sahabat, akan tetapi tidak melahirkan hukum-hukum yang lazim dari ajaran agama, karena perkata’an seseorang itu bisa dipakai dan dibuang kecuali perkata’an penghuni kubur ini (yaitu Nabi) sebagaimana kata Imam Malik. Sebab semua perkataan nabi menjadi syariat bagi kita, semua yang shahih harus diambil dan tidak boleh ditinggalkan.

Sebagai argumen yang memperkuat perkata’an kita bahwa Saif bin Umar at Tamimi ini adalah umdah, pokok, dan tempat bersandar dalam masalah sejarah, di antaranya :

1) Bahwa Imam Thobari menukil darinya kejadian-kejadian fitnah lebih banyak daripada yang lain, sampai-sampai ia berpatokkan kepadanya. (lihat At Thobari : 4/344).

2) Kemudian Adz Dzahabi menjadikan Saif adalah salah satu sumber yang dipegangnya dalam kitabnya Tarikhul Islam. (lihat tarikhul Islam : 1/14,15).

3) Adapun Ibnu Katsir ia lebih cenderung untuk menshahihkan riwayat Saif dalam kronologi terbunuhnya Utsman, walaupun ia mencatumkan lebih dari satu riwayat dalam bab itu, perlu diketahui bahwa di bab itu ada riwayat Khalifah bin Khayat (salah seorang guru Bukhari) dan riwayatnya lebih kuat dari riwayat Saif. (lihat bidayah wan nihayah : 7/203).

Dari pandangan ahli sejarah yang terdahulu kita meninjau pendapat ahli sejarah masa kini tentang Saif bin Umar At Tamimi :

Muhibbuddin Al Kahthib berkata tentang Saif : …. “Dan beliau adalah ahli sejarah yang paling mengetahui tetang sejarah Iraq”.

Dan darinya dari guru-gurunya ia berkata : “Dan ia orang yang lebih mengetahui dari kalangan ahli sejarah tetang kejadian di Iraq”.

Berkata Ahmad Ratib `Armusy : “Dan jelas dari referensi buku-buku biografi, bahwa sesungguhnya Saif tidak termasuk perowi hadits yang diandalkan (dipercayai), akan tetapi pengarang-pengarang buku biografi itu sepakat bahwa dia adalah pakar / pemimpin dalam sejarah, bahwasanya dia itu adalah ahli sejarah yang mengetahui, dan sungguhn At Thobari telah bersandar kepadanya dalam kejadian-kejadian di masa permuala’an Islam”. (lihat buku Fitnah wa waqi`atul Jamal, hal : 27).

Adapun Dr. Ammar At Tholibi mengisyaratkan bahwa Saif adalah termasuk ahli sejarah yang terdahulu, karena ia meninggal pada zaman pemerintahan Ar Rasyid (193 H) setelah tahun 170 H. dan dari segi lain ia merupakan rijal Tirmizi (279 H), orang-orang yang melaluinya Tirmizi meriwayatkan hadits, dan ia (Tirmizi) belum menyanggah riwayatnya akan perowi lain. Dan tidak seorangpun dari kalangan ahli hadits dan ahli sejarah yang membantah khabarnya (riwayatnya) khususnya berhubungan dengan Ibnu Saba. (lihat buku : Araa` Khawarij : 77).

Kita tambahkan lagi bahwa sesungguhnya orang-orang yang menghukum Saif itu lemah (dalam hadits), dan berbicara tentang dirinya, mereka meyebutkan Ibnu saba, dan mereka tidak mengingkarinya, seperti : Ibnu Hibban (Al Majruhiin 1/208 dan 2/253), Adz Dzahabi (Al Mughni fi Du`afaa` 1/399 dan di Mizanul `Itidal 2/426) dan Ibnu Hajar (Lisanul Mizan 3/290).

Dengan demikian dapatlah kita memastikan bahwa Abdullah bin Saba, bukanlah tokoh fiktif akan tetapi adalah tokoh yang ada realitanya, dan terbukti ia itu ada.

Hal itu telah disaksikan sendiri oleh buku-buku syiah terdahulu yang menjadi pegangan mereka. Dan sesungguhnya orang yang berusaha mengkaburkan dan mengingkari keberada’an Abdullah bin Saba, sama dengan orang yang mengingkari cahaya matahari pada siang bolong yang terang benderang. Dan sama dengan orang yang mengingkari keberada’an Khumaini celaka yang telah meninggal.

[lppimakassar]

http://www.islampos.com/abdullah-bin-saba-tokoh-fiktif-57656/

_______________________

Advertisements

SYI’AH SANGAT MEMBENCI MALAIKAT JIBRIL ?

Oleh : Asy-Syaikh Sholih Al-Fauzan Hafizhahullah.

Sungguh Syi’ah telah terpengaruh dengan keyakinan Yahudi dalam hal permusuhan mereka terhadap Malaikat Jibril ‘alaihis salam.

Berikut ini adalah penjelasan dari Asy-Syaikh Al-‘Allamah Sholih Al-Fauzan (Anggota Dewan Fatwa Arab Saudi) dalam kitabnya Al-Manhah Ar-Robbaniyah fi Syarhil Arba’ina An-Nawawiyah, hal.53-54.

“Diantara mereka ada yang memusuhi para malaikat, diantara mereka ada juga yang memusuhi sebagian malaikat. Seperti Yahudi yang memusuhi Malaikat Jibril ‘alaihis salam, mereka mengatakan Jibril musuh kami, seandainya yang turun kepada Muhammad (untuk menyampaikan wahyu) bukan Jibril pasti kami akan beriman kepadanya, tetapi karena yang turun kepadanya adalah Jibril maka kami tidak mau beriman kepadanya, karena Jibril adalah musuh kami. Allah berfirman :

قال الله تعالى: (قُلْ مَن كَانَ عَدُوّاً لِّجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللّهِ مُصَدِّقاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ * مَن كَانَ عَدُوّاً لِّلّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ….) البقرة : 97-98

“Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman * Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, Maka Sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir” (QS. Al-Baqoroh: 97-98).

Diantara syi’ah juga ada yang memusuhi Jibril karena terpengaruh dengan Yahudi.

Mereka berkata : “Sesungguhnya risalah (kenabian) untuk Ali, tetapi Jibril berkhianat dan memberikannya kepada Muhammad”.

Seorang penya’ir mereka berkata :

خان الأمين وصدها عن حيدرة

“Telah berkhianat Al-Amin (Jibril) dan menghalanginya dari Haidaroh (‘Ali)”

http://www.islampos.com/mengapa-syiah-sangat-membenci-malaikat-jibril-69618/

___________________

KEJAHATAN SYI’AH DI BAITULLAH AL-HARAM

• TAHUN 312 H

Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya al-Bidayah wa an-Nihayah mencatatkan suatu peristiwa pembantaian jamaah haji oleh orang-orang Syiah Qaramithah. Pada tahun 312 H, orang-orang Syiah Qaramithah yang dipimpin oleh Abu Thahir, Husein bin Abi Said al-Janabi menyerang jama’ah haji yang baru saja pulang dari Baitullah al-Haram selesai melaksanakan kewajiban mereka menunaikan ibadah haji. Mereka membunuh sejumlah besar jama’ah, mengambil harta yang mereka inginkan, memilih para wanita dan anak-anak untuk mereka tawan, kemudian mereka tinggalkan orang-orang yang tersisa dengan mengambil onta-onta sebagai rampasan.

• TAHUN 317 H

Masih dalam al-Bidayah wa an-Nihayah. Imam Ibnu Katsir juga mencatat kejadian pada tahun 317 H. Orang-orang Qaramithah dengan pemimpin mereka Abu Thahir, Husein bin Abi Said al-Janabi, memasuki Masjidil Haram dan membunuh jamaah haji yang sedang beribadah di sana. Peristiwa itu terjadi pada hari tarwiyah 8 di bulan haram, bulan Dzul Hijjah, dan tanah haram, Mekah al-Mukaramah. Para jamaah haji sampai berlindung di kiswah Ka’bah, namun orang-orang Syiah ini tidak peduli dan tetap menumpahkan darah mereka. Mengapa hal ini terjadi? Karena mereka tidak memuliakan tanah haram sebagaimana yang telah disebutkan di atas.

Kemudian dengan sombongnya Abu Thahir memerintahkan jasad-jasad jama’ah haji yang tewas di masukkan ke dalam sumur zam-zam, melepas kiswah dan pintu Ka’bah, dan yang keterlaluan ia mencongkel hajar aswad dan membawanya ke tempat mereka. Imam Ibnu Katsir menyebutkan pada tahun 339 H barulah mereka mengembalikannya lagi ke Mekah.

• TAHUN 1406 H/1986 M

Pihak keamanan Arab Saudi berhasil mengamankan bahan peledak yang dibawa jama’ah haji Iran memasuki Mekah.

• TAHUN 1407 H/1987 M

Jama’ah haji Syiah Iran mengadakan kerusuhan di tanah haram. Mereka berdomonstrasi anti Amerika di tanah suci dan di bulan suci dengan membawa senjata tajam.

• TAHUN 1414 H/1994 M

Orang-orang syi’ah mengadakan pengrusakan di dekat Masjid al-Haram. Mereka juga membunuh beberapa jamaah haji. Mereka adalah orang-orang Syiah dari Kuwait dan satu orang dari Arab Saudi sendiri. Saat itu, Allah bukakan kebusukan yang mereka tutupi dengan istilah toleransi atau persaudaraan Sunni-Syiah, di hadapan jamaah haji dari seluruh dunia.

Sebenarnya masih sangat banyak sekali kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang Syiah di tanah haram, baik secara perorangan atau kelompok yang terorganisir. Mereka melakukan pencurian terhadap jama’ah haji, membunuh jama’ah yang berada antara shafa dan marwa, dll.

Persatuan yang digembar-gemborkan oleh orang-orang Syiah adalah sebuah bualan.

Di sunting :
http://www.KisahMuslim.com

_______________________

SADDAM HUSEIN DAN SYI’AH

Dulu Kita Tertipu Dengan Berita Di Media-Media, Tentang Saddam Husein.

sejarah sebenarnya tentang saddam husein di era 80-90 an, banyak orang tidak mengetahui mengapa Saddam Hussein membantai sebagian rakyat Iraq di negerinya sendiri. Seluruh dunia pun mengecam dan menyumpah serapah Saddam. Ia ditahbiskan sebagai seorang pembantai kejam yang tidak berperi kemanusian.

Dua puluh tahun kemudian, terungkap bahwa orang-orang yang dihabisi oleh Saddam tersebut adalah penganut Syi’ah di negerinya. Selama lebih dari dua dekade, kenyata’an ini dilindungi dan disembunyikan oleh media-media barat.

Sejak lama Saddam sudah tahu akan bahaya Syiah.

Di zamannya, sudah berbondong-bondong penganut Syiah dari Iran masuk ke negerinya. Jika hanya sekadar tinggal, mungkin Saddam tidak akan mempermasalahkannya. Tapi para penganut agama Syiah ini merusak semua tatanan kehidupan yang ada, terutama dengan konsep kawin mut’ah-nya yang memang tak ada bedanya dengan prostitusi.

Di wilayah Timur Tengah sendiri, satu-satunya negara yang menyadari keberada’an Iran sebagai negara Syiah adalah Iraq.

Saddam memerintah hampir bersama’an dengan Khomeini pada tahun 1979, jauh-jauh hari sudah melihat pengaruh besar Iran ke Iraq dan negara-negara Arab lainnya.

Sejarah juga menunjukkan bahwa Iran yang Syi’ah lah yang kemudian mendesak PBB untuk memerangi Saddam. Iran juga yang menyediakan pangkalan militer ketika Amerika menyerang Iraq, mulai dari laut, udara, dan darat.

• TEGAR DI DEPAN TIANG GANTUNG

Mantan penasihat keamanan nasional Irak, Mowaffak Al-Rubaie yang mengawasi eksekusi Saddam Hussein tahun 2006 menceritakan menit-menit terakhir eksekusi Saddam, mengatakan diktator Irak itu tetap tegar sampai akhir hayatnya, dan tidak pernah mengungkapkan penyesalan untuk pembunuhan warga Syi’ah di Dujail tahun 80-an.

“Seorang kriminal? Benar. Seorang pembunuh? Benar. Seorang tukang jagal? Benar. Tapi dia tegar sampai akhir.

“Saya menerima dia (Saddam) di pintu. Tidak ada satupun yang masuk dengan kami. Tidak ada orang asing, dan tidak ada orang Amerika,” kata Rubaie, salah satu pria bertopeng penggantung Saddam Hussein, dalam sebuah wawancara dengan AFP di kantornya di daerah Kadhimiyah utara Baghdad, dekat penjara di mana eksekusi tersebut terjadi tujuh tahun yang lalu.

Berbeda dengan para eksekutornya yang nampak ketakutan dan mengenakan topeng saat melakukan eksekusi tersebut, tidak tampak rasa ketakutan di wajah Saddam Hussein meski dia akan menghadapi kematian.

“Dia mengenakan jaket dan kemeja putih, normal dan santai, dan saya tidak melihat tanda-tanda ketakutan.

“Tentu saja, beberapa orang ingin saya untuk mengatakan bahwa ia pingsan atau bahwa ia dibius, namun fakta-fakta ini adalah sejarah,” kata Rubaie.

“(Saat itu) Aku tidak mendengar penyesalan darinya, aku tidak mendengar permintaan ampun kepada Allah darinya, atau permintaan maaf.

“Seseorang yang hampir mati biasanya mengatakan, ‘Yaa Tuhan, ampunilah dosa-dosaku. Aku datang untuk-Mu, Tapi dia tidak pernah mengatakan semua itu,” kata Rubaie kepada AFP.

“(Tiang gantungan) ini untuk laki-laki”

“Ketika saya membawanya, dia diborgol dan memegang Al-Qur’an,” kata Rubaie.

“Saya membawanya ke kamar hakim, di mana ia membacakan daftar dakwaan, ketika Saddam mengulang-ulang teriakan: Matilah Amerika, Matilah Israel. Hidup Palestina, Matilah Majusi Persia!”

Rubaie kemudian membawa Saddam ke ruang di mana ia akhirnya tewas digantung.

“Dia berhenti, memandang tiang gantungan, maka ia melihat dari atas ke bawah … dan berkata: . “Dokter, ini (tiang gantungan-Red) adalah untuk laki-laki.”

Ketika tiba waktunya untuk Saddam untuk memasang tiang gantungan, kakinya masih terikat, sehingga Rubaie dan yang lain harus menyeret dia menaiki tangga.

Tepat sebelum ia digantung, para saksi mengejeknya dengan teriakan “Hidup Imam Mohammed Baqr Al-Sadr!” dan “Moqtada! Moqtada! ” – Referensi untuk lawan Saddam yang tewas selama pemerintahannya, dan keluarga orang tersebut yang bangkit untuk memimpin milisi kuat setelah tahun 2003.

Saddam menjawab: “Inikah lelaki jantan?”

Rubaie mengatakan ia menarik tuas untuk menggantung Saddam, tetapi tidak berhasil. Orang lain yang tidak ia sebutkan namanya kemudian menariknya untuk kedua kalinya, membunuh dia.

Tepat sebelum ia digantung, Saddam mulai mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai bukti keimanan seorang Muslim.

“Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad …,” ia mulai mengatakan, tetapi ia kemudian menghembuskan nafas terakhir di tiang gantungan, sebelum ia bisa mengucapkan kata-kata terakhir, “adalah utusan Allah.”

Rubaie pergi di bawah tiang gantungan untuk mengambil jenazahnya, yang katanya dimasukkan ke dalam kantong putih dan ditempatkan di atas tandu.

Jenazah itu kemudian diangkut dalam sebuah helikopter Amerika dari penjara di mana ia digantung ke kediaman Perdana Menteri Nuri al-Maliki di Zona Hijau yang dijaga ketat.

Helikopter itu penuh sesak dengan orang-orang, kata Rubaie, sehingga jenazah Saddam harus diletakkan di lantai, dan pintu helikopter dibiarkan terbuka selama penerbangan.

“Saya ingat dengan jelas bahwa matahari mulai naik” saat helikopter terbang di atas Baghdad, kata Rubaie.

“Ruangan itu penuh dengan kematian’

Di kediamannya, perdana menteri menjabat tangan kami dan mengatakan: ‘ Tuhan memberkati Anda.’ Aku berkata padanya, ‘Pergilah ke depan dan lihat dia. “Jadi dia menemukan wajahnya, dan melihat Saddam Hussein,” kata Rubaie, yang masih sekutu dekat Perdana Menteri.

“Saya tidak pernah memiliki perasa’an yang sangat aneh seperti itu,” Rubaie, yang tiga kali dipenjara selama pemerintahan Saddam, mengatakan tentang partisipasinya dalam eksekusi tersebut.

“Dia melakukan kejahatan yang tak terhitung jumlahnya, dan ia layak untuk digantung ribuan kali, hidup lagi, dan digantung lagi. Tapi perasaan itu, perasaan itu adalah perasaan aneh,” katanya.” Ruangan itu penuh dengan kematian.”

Rubaie mengatakan eksekusi Saddam dilakukan setelah konferensi video antara Maliki dan Presiden AS George Bush, yang menanyakan perdana menteri Irak tersebut: “Apa yang akan kamu lakukan dengan kriminal (Saddam Hussein-Red) ini?”

Maliki menjawab: “Kami menggantungnya.”

Bush memberinya acungan jempol, sinyal persetujuannya.

Berdasar kepentinga politik dan dendam

Saddam Hussein, yang memerintah Irak selama lebih dari dua dekade yang ditandai dengan represi brutal, bencana perang dan sanksi internasional, digantung setelah dinyatakan bersalah atas kejahatan terhadap kemanusiaan untuk pembunuhan 148 warga Syi’ah di Dujail tahun 1982.

Dia adalah presiden Irak sejak Juli 1979 hingga invasi pimpinan AS ke negara itu pada Maret 2003. Dia ditangkap oleh pasukan Amerika saat bersembunyi di sebuah lubang di sebuah pertanian di bulan Desember tahun yang sama.

Saddam dieksekusi tiga tahun kemudian pada tanggal 30 Desember 2006 setelah pengadilan ringkas yang menurut mantan jaksa agung AS, Ramsey Clark, keputusan pengadilan Iraq terhadap Saddam, bukanlah keputusan pengadilan yang adil, tetapi lebih berdasar kepentingan politik dan dendam, yang ingin menghabisi seluruh penguasa Iraq di masa lalu, termasuk Saddam Husien. Terlebih yang mengusai Irak sejak dia digulingkan hingga kini adalah kelompok Syi’ah yang terpinggirkan semasa pemerintahan Saddam Hussein.

Beberapa warga Irak, terutama Arab Sunni, menengok kebelakang dengan penuh harapan pada saat pemerintahan Saddam, terutama periode stabilitas internal yang berganti kontras dengan kekerasan brutal yang telah menjangkiti negara itu sejak penggulingan dirinya.

Saddam juga dijunjung tinggi oleh beberapa orang Arab untuk perang 1980-1988 dengan Iran, konfrontasi dengan Amerika Serikat, serangan melawan Israel, dan ketenangannya selama eksekusi dirinya, yang direkam pada video ponsel. (st/AFP)

Sumber :

https://aslibumiayu.wordpress.com/2014/01/06/dulu-kita-tertipu-dengan-berita-di-media-media-termasuk-tentang-saddam-husein-atau-invasi-irak/

http://m.voa-islam.com/news/world-world/2013/12/31/28430/eksekutor-saddam-hussein-dia-tetap-tegar-meski-akan-digantung/;

________________________

HUKUM MENCELA PARA SAHABAT NABI

Mengkafirkan Para Sahabat Nabi yang telah dijamin surga oleh Allah Subhanahu Wata’ala merupakan perkara yang berbahaya bagi aqidah seorang Muslim.

Para Sahabat sebenarnya layak mendapat penghormatan dan pujian, karena banyak ayat maupun hadits Nabi yang memuji dan menjelaskan keutama’an mereka.

Allah ta’ala berfirman : ”(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung. Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS: Al-Hasr: 8-10).

Demikian juga dalam kitab-kitab hadits yang diterima sepanjang zaman oleh umat Islam dan dipegang oleh para ulama untuk memahami agama ini, disebutkan bab-bab mengenai keutama’an para sahabat. Bahkan dengan tegas disebutkan bahwa menghormati dan memuliakan para sahabat merupakan salah satu bentuk keta’atan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

• PARA SAHABAT ADALAH SEBAIK-BAIK PENGHUNI BUMI

Al-Imam al-Bukhari dalam sahihnya meriwayatkan hadits dari Jabir bin Abdullah ra katanya: “Bersabda Rasulullah kepada kami pada hari Hudaibiyah (ketika Baiah al-Ridwan) “Kamu semua adalah sebaik-baik penghuni bumi. ketika itu kami berjumlah seribu empat ratus orang.” (HR.Bukhari).

• KECINTA’AN ZAINAL ABIDIN ALI BIN HUSEIN KEPADA PARA SAHABAT

Kecinta’an terhadap para sahabat juga dicontohkan oleh Zainal Abidin Ali bin Husein. Yang orang-orang syi’ah menjadikannya sebagai Imam.

Diriwayatkan dari Ali al-Arbali di dalam kitabnya “Kasyful Ghummah” dari Imam Ali bin Husein. “Datang menghadap Imam beberapa orang dari Iraq, mereka mencaci maki Abu Bakar, Umar, dan Utsman (radhliyallahu ‘anhum). Ketika mereka sudah selesai berbicara, Imam berkata kepada mereka: “Apakah kalian mau menjawab pertanya’anku? Apakah kalian adalah kaum Muhajirin? (sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Orang-orang yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan (Nya) dan mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar.”? (QS: Al Hasyr 8)). Mereka menjawab: “Bukan.” Beliau kembali bertanya: “Apakah kalian termasuk orang-orang yang dinyatakan dalam firman Allah Ta’ala: ‘Orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman sebelum kedatangan Muhajirin, mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada kaum Muhajirin; dan mereka mengutamakan orang-orang Muhajirin, atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka sendiri membutuhkan (apa-apa yang mereka berikan itu).”? (QS: Al Hasyr 9). Mereka menjawab: “Bukan.” Beliau berkata lagi: “Kalian telah mengakui, bahwa kalian bukan termasuk salah satu dari dua golongan tersebut. Maka saya bersaksi, bahwa kalian juga bukan dari golongan orang-orang sebagaimana difirmankan Allah: “Mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami. Janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.” (QS: Al Hasyr 10). Menyingkirlah kalian dariku, semoga Allah menghukum kalian!” (Kasyful Ghummah Fi Ma’rifatil Aimmah, juz II, hal 291).

• KECINTA’AN AHLUL BAIT KEPADA PARA SAHABAT

Kecinta’an Ahlul Bait (Keluarga Nabi) terhadap para sahabat tidak diragukan lagi, termasuk kepada sahabat yang bersebarangan dengan mereka seperti Muawiyah. Hal ini dijelaskan oleh ulama Syaih sendiri at-Thabarsi, dalam kitabnya al-Ihtijaj.

Dalam kitab tersebut diejlaskan bahwa Ahlul bait masih lebih percaya kepada Muawiyah daripada kepada kaum Syiah sendiri.

Hal ini bisa dilihat dari apa yang dikatakan oleh Imam Hasan bin Ali. Dari Zaid bin Wahb al-Juhani katanya: Ketika al-Hasan bin ‘Ali a.s. ditikam di al-Madain aku datang menemuinya dalam keada’an dia kesakitan. Maka aku pun berkata kepadanya: “Apa pandanganmu wahai anak Rasulullah karena sesungguhnya orang banyak dalam keada’an kebingungan (dengan apa yang terjadi)? Dia pun menjawab: “Demi Allah! Aku pikir Mu’awiyah lebih baik untukku daripada mereka-mereka ini. Mereka mengaku sebagai Syi’ahku tetapi mencari peluang untuk membunuhku, merampas barang berhargaku dan mengambil hartaku. Demi Allah! Jikalau aku mengadakan perjanjian dengan Mu’awiyah, dia akan melindungi darahku dan aku merasa aman dengan (perlindungannya) terhadap keluargaku. Itu adalah lebih baik daripada mereka (Syi’ah) membunuhku lalu akan tercampakkan kaum keluargaku dan isteriku. Demi Allah! jikalau aku memerangi Mu’awiyah mereka akan menangkapku sehingga mereka akan menyerahkanku kepadanya (Mu’awiyah) sebagai tawanan. Demi Allah! jika aku mengadakan perdamaian dengannya dan aku dalam keada’an mulia adalah lebih baik daripada dia membunuhku sebagai tawanan atau dia akan membantuku lalu ia menjadi pengikut Bani Hasyim di akhir zaman.” (Ahmad bin Ali bin Abi Talib at-Thabarsi, al-Ihtijaj, juz II, hal. 290).

• PENCELA PARA SAHABAT NABI ADALAH ORANG-ORANG FASIK, ZINDIK DAN MUNAFIK

Abu Zur’ah ar Razi yang dinukil perkata’annya oleh Al-Khathib Al-Baghdadi dalam kitabnya Al Kifayah juga menilai bahwa orang yang menghina sahabat termasuk munafik. Ia berkata : “Apabila kamu melihat seseorang menghina salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ketahuilah bahwasanya dia adalah seorang zindiq (munafik) karena dalam pandangan kami Rasululullah adalah benar, al- Qur’an benar, dan yang menyampaikan al-Qur’an dan hadits kepada kita hanyalah sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebenarnya orang-orang itu hendak mencela para saksi kita untuk membatalkan al-Qur’an dan hadits. Justru cela’an lebih layak bagi orang-orang itu, merekalah kaum zindik.” (Al Kifayah fi Ilmu Riwayah, juz 1, hal. 49).

Berdasar keterangan tersebut jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa orang yang menghina sahabat Rasulullah adalah orang fasik dan munafik, bahkan ada sebagian ulama yang mengkafirkannya.

• MENCINTAI PARA SAHABAT NABI ADALAH BUKTI KEIMANAN

Cinta kepada para sahabat Nabi, baik itu Ahlul Bait maupun bukan merupakan tanda keimanan seseorang.

Imam As-Suyuthi ketika mengomentari hadits Rasulullah riwayat Al-Imam Muslim yang berbunyi : “Mencintai orang Anshar adalah tanda keimanan, dan membenci mereka adalah tanda kemunafikan” menulis sebuah penafsiran yang menarik: “Tanda-tanda orang beriman adalah mencintai orang-orang Anshar karena siapa saja yang mengerti martabat mereka dan apa yang mereka persembahkan berupa pertolongan terhadap agama Islam, jerih-payah mereka memenangkannya, menampung para sahabat (muhajirin,pen), cinta mereka kepada Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam, pengorbanan jiwa dan harta mereka di depan Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam, permusuhan mereka terhadap semua orang (kafir) karena mengutamakan Islam dan mencintainya, maka semua itu merupakan tanda kebenaran imannya, dan jujurnya dia dalam berislam. Barangsiapa yang membenci mereka dibalik semua pengorbanan itu, maka itu merupakan tanda rusak dan busuknya niat orang ini”. (Ad-Dibaj Ala Shahih Muslim, juz I, hal. 92)

• DILARANG SHALAT DI BELAKANG PENCELA PARA SAHABAT NABI

Imam al-Hafizh Abd Qahir al-Baghdadi bahkan mengkafirkan orang yang mengkafirkan para sahabat dan melarang umat Islam shalat di belakang mereka. Ia berkata: “Adapun kelompok yang senantiasa mengikuti hawa nafsu, seperti Jarudiyyah, Hisyamiyyah, Jahmiyyah dan Syi’ah Imamiyyah yang telah mengkafirkan sahabat-sahabat, maka kami mengkafirkan mereka dan tidak boleh mendo’akan mereka serta tidak boleh pula shalat di belakang mereka.” (Al-Farq Bain al-Firaq wa Bayani al-Firqotu Najiyah, hal. 357)

• HUKUMAN BAGI PARA PENCELA SAHABAT NABI

Imam Nawawi berpendapat bahwa orang yang mencela sahabat harus dihukum. Ia berkata : “Ketahuilah bahwa mencela para sahabat radhiallahu ‘anhum adalah haram, ia termasuk perkara keji yang diharamkan baik kepada mereka yang terlibat di dalam peristiwa fitnah atau selainnya. Ini karena mereka adalah para mujtahid di dalam peperangan tersebut”. al-Qadhi (‘Iyadh) menambah: “Mencela salah seorang daripada sahabat merupakan kesalahan yang besar. Pandangan kami serta pandangan jumhur ulama adalah mereka itu dihukum tetapi tidak dihukum mati. Namun menurut sebagian ulama Maliki mereka itu dihukum mati”. (Syarh Shahih Muslim bi al-Nawawi, juz XVI, hal.. 93).

Bedasar keterangan tersebut ulama Sunni sepakat bahwa haram hukumnya mencela sahabat Nabi. Para ulama hanya berbeda dalam hal hukuman yang diberikan kepada mereka yang mencela sahabat Nabi.

Di sunting dari :
http://m.hidayatullah.com/artikel/opini/read/2012/08/29/4051/masalah-sampang-dan-hukum-mencela-sahabat.html#.VFDe-oQ-apU

______________________

AGAMA ORANG SYI’AH YANG SEBENARNYA

Orang-orang syi’ah sebetulnya mereka memiliki agama tersendiri. Dalam kitab-kitab Syiah, ulama mereka menyebut agamanya dengan nama agama Imamiyah. Sebagai contoh, Baqir al-Majlisi yang dikenal sebagai Syaik as-Syuduq (w. 381 H) menyebut agamanya (Syiah) dengan sebutan agama Imamiyah.

Ia mengarang buku khusus berjudul Al-I’tiqodat Din al-Imamiyah. Dalam kitab ini Syaikh As-Syuduq menjelaskan secara tuntas tentang aqidah Syi’ah yang berbeda dengan aqidah Ahlu Sunna wal Jama’ah.

Hal ini juga diakui oleh At-Thusi (w.460 H) dalam kitabnya al-Farsht hal. 189 dan Rahib al-Asfahani dalam kitabnya ad-Dari’ah ila Makarimi Syariah, juz II, hal. 226.

Pengakuan kedua ulama Syiah ini cukup menjadi bukti bahwa istilah agama Imamiyah sudah sangat dikenal bahkan menjadi aqidah di kalangan Syiah.

Karena itu tidak salah jika kita menyebut Syiah sebagai agama Imamiyah, bukan Islam. Penyebutan ini berdasar pengakuan mereka sendiri.

Di sunting dari :
http://m.hidayatullah.com/artikel/opini/read/2012/09/05/4054/menjawab-dua-argumen-klasik-syiah.html#.VFDW3IQ-apU

______________________

TAQIYAH

Oleh : Bahrul Ulum

Taqiyah didefinisikan oleh salah seorang ulama Syiah, Muhammad Jawaad Mughniyah, sebagai berikut :

“Taqiyah yaitu kamu mengatakan atau melakukan (sesuatu), berlainan dengan apa yang kamu yakini untuk menolak bahaya dari dirimu atau hartamu atau untuk menjaga kehormatanmu” (Muhammad Jawaad Mughniyah, As Syi’ah fil Mizaan, hal : 48).

Ajaran Taqiyah ini merupakan bagian dari aqidah Syiah.

Al-Kulaini menisbahkan kepada Imam Ja’far Shodiq yang berkata : “Wahai Abu Umar sesungguhnya sembilan persepuluh (sembilan puluh persen) agama ini terletak pada (akidah) Taqiyah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak melakukan Taqiyah. Taqiyah ada pada setiap sesuatu kecuali di nabidz (korma yang direndam dalam air untuk membuat arak) dan pada menyapu khuuf (kaus atau kulit).” Dan dinukilnya juga dari Abi Abdillah ia berkata : “Jagalah agama kalian dan tutuplah agama itu dengan Taqiyah, karena tidak ada iman bagi orang yang tidak mempunyai Taqiyah.” (Usul al-Kafi, hal: 482-483)

Berdasar dalil di atas, Syiah memandang Taqiyah itu sebagai fardu (wajib), sebab tidak akan berdiri mazhab ini kecuali dengan Taqiyah, dan mereka menerima pokok-pokok madzhab secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan.

Mereka selalu melaksanakan Taqiyah sa’at kondisi sulit mengepung mereka.

http://m.hidayatullah.com/artikel/opini/read/2012/09/05/4054/menjawab-dua-argumen-klasik-syiah.html#.VFDW3IQ-apU

______________________