CONTOH TAFSIR SESAT MODEL SYI’AH

CONTOH TAFSIR SESAT MODEL SYI’AH

Sebagaimana yang telah diketahui dengan pasti, golongan manusia yang paling pendusta di muka bumi ini adalah golongan Syiah. Mereka tidak segan dan ragu-ragu untuk berkata dusta demi kepentingan agama mereka dan menutupi kebusukan mereka di mata kaum muslimin. Hampir seluruh bagian syariat Islam tidak selamat dari mulut dusta dan tangan keji mereka.

Bahkan dengan lancang mereka berani mengatakan bahwa Al Qur`an yang beredar di tangan kaum muslimin saat ini adalah tidak lengkap karena sebagiannya telah dihapus oleh para sahabat. Selain itu, mereka juga menafsirkan beberapa ayat Al Qur`an dengan penafsiran yang mereka buat-buat. Berikut ini adalah sebagian contohnya :

1. Surat Al Lahab ayat 1

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.”

Tafsir versi Syiah : Yang dimaksud dengan “dua tangan” Abu Lahab di sini adalah dua pembantu Abu Lahab, yaitu Abu Bakr Ash Shiddiq dan Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhuma.

Tafsir Ahlus Sunnah : Yang dimaksud dengan “dua tangan” Abu Lahab di sini adalah tangan Abu Lahab yang sesungguhnya. Maknanya adalah Abu Lahab mendapatkan kebinasaan dan kerugian akibat permusuhannya terhadap Rasulullah صلى الله عليه وسلم .

2. Surat Az Zumar ayat 65

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan terhapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.”

Tafsir versi Syiah : Makna ayat ini adalah jika kamu mempersekutukan Ali bin Abi Thalib dengan Abu Bakr di dalam perkara khilafah maka seluruh amalanmu akan terhapus dan akan menjadi orang yang merugi, yaitu murtad.

Tafsir Ahlus Sunnah : Makna ayat ini adalah jika kamu mempersekutukan Allah dengan segala sesuatu selain-Nya di dalam masalah peribadatan maka seluruh amalanmu akan terhapus dan akan menjadi orang yang merugi, yaitu murtad.

3. Surat Al Baqarah ayat 67

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً

“Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyembelih seekor sapi betina.”

Tafsir versi Syiah : Sesungguhnya Allah menyuruh kalian untuk menyembelih Aisyah istri Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم .

Tafsir Ahlus Sunnah: Nabi Musa صلى الله عليه وسلم berkata kepada kaumnya bahwasanya Allah menyuruh mereka untuk menyembelih seekor sapi betina.

4. Surat At Taubah ayat 12

وَإِنْ نَكَثُوا أَيْمَانَهُمْ مِنْ بَعْدِ عَهْدِهِمْ وَطَعَنُوا فِي دِينِكُمْ فَقَاتِلُوا أَئِمَّةَ الْكُفْرِ إِنَّهُمْ لَا أَيْمَانَ لَهُمْ لَعَلَّهُمْ يَنْتَهُونَ

“Jika mereka merusak sumpah mereka sesudah mereka berjanji dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya supaya mereka berhenti.”

Tafsir versi Syiah : Yang dimaksud dengan “pemimpin-pemimpin orang kafir” adalah dua orang sahabat nabi yaitu Thalhah bin Ubaidillah dan Az Zubair ibnul ‘Awwam.

Tafsir Ahlus Sunnah : Yang dimaksud dengan “pemimpin-pemimpin orang kafir” adalah tokoh-tokoh kaum musyrikin yang sangat keras permusuhannya terhadap Islam, seperti Abu Jahl, ‘Utbah bin Abi Rabi’ah, Syaibah bin Abi Rabi’ah, Umayyah bin Khalaf, dan orang-orang yang semisal dengan mereka.

5. Surat Ar Rahman ayat 19

مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ

“Dia mengalirkan dua lautan yang keduanya kemudian bertemu.”

Tafsir versi Syiah : Yang dimaksud dengan “dua lautan” adalah Ali bin Abi Thalib dan Fathimah binti Muhammad radhiallahu ‘anhuma. Allah mempertemukan (menjodohkan) mereka berdua.

Tafsir Ahlus Sunnah : Yang dimaksud dengan “dua lautan” adalah lautan yang tawar yaitu sungai dan lautan yang asin yaitu laut sebagaimana di dalam surat Al Furqan ayat 53.

6. Surat Ar Rahman ayat 22

يَخْرُجُ مِنْهُمَا اللُّؤْلُؤُ وَالْمَرْجَانُ

“Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.”

Tafsir versi Syiah : Dari keduanya, yaitu Ali dan Fathimah, lahirlah dua orang putra yang bernama Al Hasan dan Al Husain.

Tafsir Ahlus Sunnah : Dari lautan tawar dan lautan asin terdapat perhiasan berupa mutiara dan marjan, sebagaimana disebutkan di dalam surat Fathir ayat 12.

7. Surat Yasin ayat 12

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata (Lauhul Mahfuzh).”

Tafsir versi Syiah : Yang dimaksud dengan (إِمَامٍ مُبِينٍ) adalah Ali bin Abi Thalib. Maknanya Ali mengetahui segala perkara masa lalu, kini, dan yang akan datang, baik yang di langit maupun yang di bumi, karena dia telah diberikan ilmunya oleh Allah. Dengan kata lain, Ali bin Abi Thalib mengetahui segala perkara gaib.

Tafsir Ahlus Sunnah : Yang dimaksud dengan (إِمَامٍ مُبِينٍ) adalah kitab Lauhul Mahfuzh yang di dalamnya tercatat segala perkara masa lalu, kini, dan akan datang hingga hari kiamat tiba.

8. Surat An Naba` ayat 1-3

عَمَّ يَتَسَاءَلُونَ (1) عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ (2) الَّذِي هُمْ فِيهِ مُخْتَلِفُونَ

“Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya? Tentang berita yang besar yang mereka perselisihkan tentang ini.”

Tafsir versi Syiah : Yang dimaksud dengan “berita yang besar” yang diperselisihkan adalah berita tentang Ali bin Abi Thalib, ada yang memuji dan ada yang membenci, ada yang mencintainya dan ada yang memusuhinya.

Tafsir Ahlus Sunnah : Yang dimaksud dengan “berita yang besar” yang diperselisihkan adalah berita tentang hari kiamat dan hari berbangkit sebagaimana yang diisyaratkan pada ayat ketujuh belas dari surat ini.

9. Surat Al Maidah ayat 55

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ

“Sesungguhnya penolong kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).”

Tafsir versi Syiah : Yang dimaksud dengan “orang-orang yang beriman” di dalam ayat tersebut adalah Ali bin Abi Thalib.

Tafsir Ahlus Sunnah : Yang dimaksud dengan “orang-orang yang beriman” di dalam ayat tersebut adalah seluruh kaum mukminin, tidak hanya Ali bin Abi Thalib, sebagaimana yang tersebut di dalam surat Al Baqarah ayat 257 dan surat At Taubah ayat 71.

10. Surat Al Baqarah ayat 157

أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“Mereka itulah yang mendapat pujian dan rahmat dari Rabb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.”

Tafsir versi Syiah : Ayat ini turun menerangkan keadaan Ali bin Abi Thalib ketika mendapat musibah dengan meninggalnya paman beliau Hamzah bin Abdil Muththalib di perang Uhud.

Tafsir Ahlus Sunnah : Ayat ini berlaku kepada setiap mukmin yang bersabar dan bertawakkal kepada Allah ketika mendapatkan cobaan dan musibah di dalam hidupnya.

Demikianlah beberapa contoh tafsir menyimpang yang dilakukan oleh kaum Syiah demi mendukung kebatilan agama yang mereka anut saat ini.

والحمد لله رب العالمين

Sumber: Disadur dengan perubahan seperlunya dari kitab Muqaddimah Ushulut Tafsir karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.

http://dakwahquransunnah.blogspot.com/2012/12/contoh-tafsir-sesat-ala-syiah.html?m=1

==========================

Advertisements

NIKAH MUT’AH DALAM AJARAN SYI’AH

NIKAH MUT’AH DALAM AJARAN SYI’AH

Berikut nukilkan beberapa bukti dari kitab Syi’ah yang berisi pelegalan zina terselubung dalam nikah mut’ah dan berbagai bentuk busuk dalam mempraktekkannya.

1. Ruhullah al-Khumaini dalam kitabnya Tahrir al-Wasiilah (تحرير الوسيلة): II/241; dalam masalah ke 11, dia berkata: “Pendapat yang masyhur dan paling kuat, boleh menyetubuhi wanita pada duburnya. Dan sebagai tindakan hati-hati hendaknya ditinggalkan, khususnya ketika istrinya tidak suka.”

Pada masalah ke 12, ia berkata: “Tidak boleh menyetubuhi istri sebelum sempurna 7 tahun, baik nikah abadi atau terputus (mut’ah). Adapun seluruh kegiatan bercumbu seperti membelai dengan syahwat, mengecup, dan memegang paha, itu tidak apa-apa sampai pada anak yang masih di susuan.”

2. Al-Sayyid al-Khui dalam kitabnya Maniyyah al Sa-il (منية السائل) atau lebih dikenal dengan Fatawa al-Khu’i, hal 100, membolehkan mut’ah dengan pembantu, sama saja pembantu yang bertugas mencuci, memasak, bersih-bersih rumah, ataupun pembantu yang bertugas dalam mendidik anak. Tidak dibedakan pembantu yang dibawah tanggungan dia atau orang lain.

3. Muhammad al-Thusi, dalam kitabnya Tahdzib al-Ahkam, pada bab tambahan dalam fiqih Nikah (VII/460), riwayat no. 1843: menyebutkan riwayat yang disandarkan kepada Abu Abdillah, beliau berkata: “Jika seseorang menyetubuhi istrinya di duburnya dan sang (sang istri) dalam kondisi berpuasa, maka puasa tidak batal dan ia tidak wajib mandi.”

4. Al-Thibrisi, dalam kitabnya Mustadrak al-Wasa-il, Kitab al-Nikah, hal. 452, menjelaskan tentang keutamaan dan pahala yang diperoleh orang yang melakukan mut’ah. (Riwayat no. 17257), dia menyandarkan riwayat tersebut kepada imam Al-Baqir: “Jika dia melakukannya (mut’ah) karena Allah ‘Azza wa Jalla dan menyelisihi si fulan, maka tidaklah ia mengucap satu ucapan kecuali Allah mencatatnya sebagai satu kebaikan untuknya. Jika ia menyetubuhinya, Allah akan mengampuni dosanya. Jika ia mandi, Allah memberi ampunan untuknya sejumlah air yang membasahi kepalanya, yaitu sebanyak rambutnya.”

(No. 17258) dalam riwayat yang disandarkan kepada Imam al-Shadiq, ia berkata: “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla mengharamkan setiap minuman yang memabukkan atas Syi’ah (kelompok) kami, dan menggantinya dengan mut’ah.”

(No. 17259) dalam riwayat yang bersumber dari al-Baqir, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Ketika aku diisra’kan ke langit, Jibril menemuiku, lalu berkata: ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Sesungguhnya aku telah mengampuni orang-orang yang melakukan nikah mut’ah dari kalangan wanita”.’

5. Muhammad al-Thusi, dalam kitabnya Tahdzib al-Ahkam, pada bab Perincian Hukum-hukum Nikah (VII/256): (no. 1105) menyebutkan riwayat yang bersumber dari Imam al-Ridha: Bahwa beliau membolehkan menikahi wanita Yahudi, Nashrani, bahkan Majusi secara mut’ah.
(No. 1106) riwayat dari Abu Abdillah, ia berkata: “Seorang laki-laki boleh bermut’ah dengan wantia Majusi.” Tetapi bermut’ah dengan wanita mukminah adalah lebih utama.

========

ASAL USUL SYI’AH

ASAL USUL SYI’AH

Syi’ah secara etimologi bahasa berarti pengikut, sekte dan golongan. Sedangkan dalam istilah Syara’, Syi’ah adalah suatu aliran yang timbul sejak pemerintahan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu yang dikomandoi oleh Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi dari Yaman.

Setelah terbunuhnya Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, lalu Abdullah bin Saba’ mengintrodusir ajarannya secara terang-terangan dan menggalang massa untuk memproklamirkan bahwa kepemimpinan (imamah) sesudah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebenarnya ke tangan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, karena suatu nash (teks) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Namun, menurut Abdullah bin Saba’, Khalifah Abu Bakar, Umar, Utsman telah mengambil alih kedudukan tersebut.

Keyakinan itu berkembang sampai kepada menuhankan Ali bin Abi Thalib.

Berhubung hal itu suatu kebohongan, maka diambil tindakan oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, yaitu mereka dibakar, lalu sebagian mereka melarikan diri ke Madain.

Aliran Syi’ah pada abad pertama hijriyah belum merupakan aliran yang solid sebagai trend yang mempunyai berbagai macam keyakinan seperti yang berkembang pada abad ke-2 Hijriyah dan abad-abad berikutnya.

http://asantosa30.wordpress.com/category/syiah/apa-saja-kesesatan-syiah/

——————————

KESESATAN SYI’AH

KESESATAN SYI’AH

Pokok-Pokok Penyimpangan Syi’ah pada Periode Pertama :

1. Keyakinan bahwa imam sesudah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam adalah Ali bin Abi Thalib, sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena itu para Khalifah dituduh merampok kepemimpinan dari tangan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu
‘anhu.

2. Keyakinan bahwa imam mereka maksum (terjaga dari salah dan dosa).

3. Keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib dan para Imam yang telah wafat akan hidup kembali sebelum hari Kiamat untuk membalas dendam kepada lawan-lawannya, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah dan lain-lain.

4. Keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib dan para Imam mengetahui rahasia ghaib, baik yang lalu maupun yang akan datang. Ini berarti sama dengan menuhankan Ali dan Imam.

5. Keyakinan tentang ketuhanan Ali bin Abi Thalib yang di deklarasikan oleh para pengikut Abdullah bin Saba’ dan akhirnya mereka dihukum bakar oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu karena keyakinan tersebut.

6. Keyakinan mengutamakan Ali bin Abi Thalib atas Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Padahal Ali sendiri mengambil tindakan hukum cambuk 80 kali terhadap orang yang meyakini kebohongan tersebut.

7. Keyakinan mencaci maki para Sahabat atau sebagian Sahabat seperti Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. (Dirasat fil Ahwaa’ wal Firaq wal Bida’ wa Mauqifus Salaf minhaa, Dr. Nashir bin Abdul Karim Al- Aql hal. 237).

8. Pada abad ke-2 Hijriyah, perkembangan keyakinan Syi’ah semakin menjadi-jadi sebagai aliran yang mempunyai berbagai perangkat keyakinan baku dan terus berkembang sampai berdirinya dinasti Fathimiyyah di Mesir dan dinasti Sofawiyah di Iran. Terakhir aliran tersebut terangkat kembali dengan revolusi Khomaini dan dijadikan sebagai aliran resmi negara Iran sejak 1979.

* Pokok-Pokok Penyimpangan Syi’ah Secara Umum :

1) Pada Rukun Iman : Syi’ah hanya memiliki 5 rukun iman, tanpa menyebut keimanan kepada para Malaikat, Kitab Allah, Rasul dan Qadha dan Qadar, yaitu :

1. Tauhid (keesaan Allah),
2. Al-’Adl (keadilan Allah)
3. Nubuwwah (kenabian),
4. Imamah (kepemimpinan Imam),
5. Ma’ad (hari kebangkitan dan pembalasan).

(Lihat ‘Aqa’idul Imamiyah oleh Muhammad Ridha Mudhoffar dll).

2) Pada Rukum Islam :

Syi’ah tidak mencantumkan Syahadatain dalam rukun Islam, yaitu :

1. Shalat,
2. Zakat,
3. Puasa,
4. Haji,
5. Wilayah (perwalian)
(lihat Al-Kafie juz II hal 18)

3) Syi’ah meyakini bahwa Al-Qur’an sekarang ini telah dirubah, ditambahi atau dikurangi dari yang seharusnya, seperti :

“wa inkuntum fii roibim mimma nazzalna ‘ala ‘abdina FII ‘ALIYYIN fa`tu bi shuratim mim mits lih” (Al-Kafie, Kitabul Hujjah: I/417) Ada tambahan “fii ‘Aliyyin” dari teks asli Al-Qur’an yang berbunyi : “wa inkuntum fii roibim mimma nazzalna
‘ala ‘abdina fa`tu bi shuratim mim mits lih” (Al-Baqarah:23)

Karena itu mereka meyakini bahwa : Abu Abdillah a.s (imam Syi’ah) berkata : “Al-Qur’an yang dibawa oleh Jibril a.s. kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 17.000 ayat (Al-Kafi fil Ushul Juz II hal.634).

Al-Qur’an mereka yang berjumlah 17.000 ayat itu disebut Mushaf Fatimah (lihat kitab Syi’ah Al-Kafi fil Ushul juz I hal 240-241 dan Fashlul Khithab karangan An-Nuri Ath-Thibrisy).

4) Syi’ah meyakini bahwa para Sahabat sepeninggal Nabi hallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka murtad, kecuali beberapa orang saja, seperti : Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifary dan Salman Al- Farisy (Ar Raudhah minal Kafi juz VIII hal.245, Al-Ushul minal Kafi juz II hal 244).

5) Syi’ah menggunakan senjata
“taqiyyah” yaitu berbohong, dengan cara menampakkan sesuatu yang berbeda dengan yang sebenarnya, untuk mengelabui (Al Kafi fil Ushul Juz II hal.217).

6) Syi’ah percaya kepada Ar-Raj’ah yaitu kembalinya roh-roh ke jasadnya masing-masing di dunia ini sebelum Qiamat dikala imam Ghaib mereka keluar dari persembunyiannya dan menghidupkan Ali dan anak-anaknya untuk balas dendam kepada lawan-lawannya.

7) Syi’ah percaya kepada Al-Bada’, yakni tampak bagi Allah dalam hal keimaman Ismail (yang telah dinobatkan keimamannya oleh ayahnya, Ja’far As-Shadiq, tetapi kemudian meninggal disaat ayahnya masih hidup) yang tadinya tidak tampak. Jadi bagi mereka, Allah boleh khilaf, tetapi Imam mereka tetap maksum (terjaga).

8) Syi’ah membolehkan “nikah mut’ah”, yaitu nikah kontrak dengan jangka waktu tertentu (lihat Tafsir Minhajus Shadiqin Juz II hal.493).

Padahal hal itu telah diharamkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib sendiri.

http://asantosa30.wordpress.com/category/syiah/apa-saja-kesesatan-syiah/

————————-

SYIAH SERATUS PERSEN BERTOLAK BELAKANG DENGAN ISLAM

SYIAH SERATUS PERSEN BERTOLAK BELAKANG DENGAN ISLAM

Ustadz Roisul Hukama, Mantan Pengurus Ikatan Jama’ah Ahlul Bayt Indonesia (IJABI) ini membeberkan kesesatan ajaran Syiah. Menurutnya, ajaran Syiah sudah bertolak belakang seratus persen dengan ajaran Islam.

“Bukan lagi separuh persen, tapi seratus persen. Jadi setelah tahu begitu saya out. Karena kita tidak mau semakin jauh. Nanti kita tidak mau jadi robot yang diremot. Ya kalau untung akhiratnya, sudah didunia diremote orang, akhiratnya pun kacau balau.” Tandasnya setelah Rapat antara MUI dengan Ulama Se Jawa Timur di kantor MUI Pusat, Selasa 24/01.

Adik kandung Tajul Muluk ini mulai aktif dalam struktur IJABI pada tahun 2007. Namun dalam perkembangannya, banyak kedustaan dan penyimpangan yang dilakukan Organisasi Syiah terbesar di Indonesia itu.

“Katanya (IJABI) mengusung pluralisme, nonpolitik. Katanya non mazhab, seluruh ahlul bait bisa masuk ke dalamnya. Tapi nyatanya, di dalam semua mau diajak ke wilayatul faqih. Wilayatul Faqih itu artinya revolusi imamah. Ketika saya tahu begitu dan penyimpangan-penyimpangan ushul lainyna, ini sudah masuk ahlul bid’ah fi akidah. Akhirnya saya keluar,” sambungnya.

Selanjutnya, ia juga membantah pemberitaan media sekuler dan opini yang dihembuskan bahwa konflik di Sampang terjadi karena persoalan keluarga. “Tidak ada itu. Malu mas, naïf bicara begitu, sampai-sampai dunia internasional turun tangan. Masak gara-gara keluarga. Istimewa sekali,” kilahnya.

Sebelumnya, Ketua Dewan Syura IJABI Jalaluddin Rakhmat mengatakan, konflik yang terjadi antara Sunni-Syiah di Sampang, Madura, bukan karena perbedaan pendapat, melainkan karena perbedaan pendapatan yang dipicu oleh konflik internal keluarga antara Ustadz Raisul Hukama dan kakaknya, Tajul Muluk.

Sumber :

http://www.eramuslim.com/berita/nasional/mantan-syiah-syiah-indonesia-tengah-mempersiapkan-revolusi.htm
http://www.eramuslim.com/berita/nasional/mantan-syiah-jangan-percaya-dengan-orang-syiah.htm
http://www.eramuslim.com/berita/nasional/mantan-pengurus-ijabi-syiah-seratus-persen-bertolak-belakang-dengan-islam.htm

Posted by : Sunnah Salaf

_______

SYI’AH LEBIH BERBAHAYA DARI YAHUDI DAN NASRANI

SYI’AH LEBIH BERBAHAYA DARI YAHUDI DAN NASRANI

Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata : “Sesungguhnya pokok setiap fitnah yang menimpa adalah syi’ah, dan siapa saja yang berhimpun kepada mereka, dan sungguh kebanyakan dari pedang-pedang yang terhunus kepada islam itu berasal dari pihak mereka, dan dengan merekalah orang-orang zindiq berkedok”. (Minhajul muslim 3/234).

Maka penilaian terhadap keada’an kaum muslimin pada zaman ini, membenarkan keabsahan kalimat tersebut, bahwa sungguh jika bukan karena negara syi’ah majusiah Iran, maka Afghanistan dan Iraq tidak akan terjajah secara mudah, sebagaimana statement Abthahi, wakil ketua Negara Iran untuk urusan perundang-undangan dan parlement : “Kalaulah bukan karena kerjasama Iran, maka Kabul dan Baghdad tidak mungkin jatuh dengan begitu mudahnya” .

Dan perkata’an Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah masihlah menjadi petunjuk yang tak terbantahkan untuk menghukumi tindakan syi’ah dan kerjasama mereka dengan orang-orang kuffar dalam merongrong kaum muslimin, yaitu ketika Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata : “Dan begitulah apabila terbentuk sebuah negara yang mengekor terhadap yahudi dari Negara Iraq itu sendiri dan selainnya, maka kaum rofidhoh menjadi golongan terbesar dari para antek-antek penolong yahudi, dan mereka selalu melindungi orang-orang kuffar dari para musyrikin yahudi dan nasrani serta membantu mereka atas pembunuhan kaum muslimin, berikut permusuhan terhadap mereka”. (Minhajus-sunnah 3/378).

Maka ini adalah apa yang telah kita saksikan dan dan sedang kita lihat hari ini, bagaimana syi’ah mempunyai peran utama dalam perang salib terhadap kaum muslimin di Afghanistan dan Iraq. Dan mereka adalah sebaik-baik pembantu bagi mereka, mata-mata yang selalu siap menyerahkan informasi-informasi tentang kaum muslimin, dan pasukan-pasukan yang memerangi para muwahhidin, maka sebagaimana pernyata’an Syaikhul Islam “rofidhoh menjadi golongan terbesar dari para antek-antek yahudi” dan itu telah tercapai !.

http://lamurkha.blogspot.com/2014/08/kafir-syiah-lebih-berbahaya-dari-yahudi.html?m=1

___

KAFIR SYI’AH LEBIH KAFIR DARI YAHUDI DAN NASRANI

KAFIR SYI’AH LEBIH KAFIR DARI YAHUDI DAN NASRANI

Apabila kita bertanya kepada orang-orang yahudi, siapa orang terbaik di kalangan kalian, maka orang yahudi akan mengatakan : “Sahabat-sahabat Musa alaihissalam”, sedangkan apabila pertanya’an itu di tanyakan kepada orang nashara, maka mereka akan menjawab : “Sahabat Isa alaihissalam”. Tapi jika kita tanyakan kepada orang-orang syiah, siapa manusia yang terburuk ? maka syiah akan segera menjawab : “Mereka adalah sahabat Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam”, jadi syiah menganggap sahabat nabi ini adalah orang yang terjahat, dan yang paling jahat di antara para sahabat adalah Abu Bakar dan Umar”.

Imam Bukhori dalam Kholgul Afail halaman 125, pernah berkata : “Bagi saya sama saja, apakah aku solat dibelakang Imam yang beraliran jahm atau rofidhoh (syiah) atau aku solat di belakang Imam yahudi atau nasrani. Dan seorang Muslim tidak boleh memberi salam pada mereka, dan tidak boleh mengunjungi mereka ketika sakit juga tidak boleh kawin dengan mereka dan tidak menjadikan mereka sebagai saksi, begitu pula tidak makan hewan yang disembelih oleh mereka”.

http://lamurkha.blogspot.com/2014/08/kafir-syiah-lebih-berbahaya-dari-yahudi.html?m=1

___